Wish i can start writing again. I know my writing can never be published. Most of them are rubbish, self absorbed, rubbish-talk stories. But, writing is really important to me. As it keeps my mind busy and i like to get drown in the story. Plotting, gets low and high with my characters emotions.
Think i will plot another story to make my mind busy. Not to be published. Only for my own satisfaction. Think i will start today. Yep, today.
Another thing happened in my life was, my exbf from germany sent a message to me again. Wishing me a happy new year. It was nothing much. But it has been more than a year. Maybe all the bad news he heard mentioning my country's name finally got to him. Well, i am married afterall. I will be honest with him. Maybe i am even pregnant by now. I wont lie that when i got the message i was shocked. What a big surprise, wasnt it? I loved him. I did. Sigh...
Yesterday my husband brought home one of his friend. As always, i had this fear of being an embarrassment to my husband. You know, i am fat. Not pretty. Not in fashion. But then i just shook them off. Tried to give the best i could.
Again, the depression i got from the econsave's cashier still got me.She's only 16 for god's sake. The problem is with me. With my brain.
Showing posts with label Writing. Show all posts
Showing posts with label Writing. Show all posts
Monday, January 5, 2015
Saturday, May 12, 2012
Cinta Abadi > My Inspiration
Lelaki berambut gondrong itu selalu duduk di pojok kursi Cafe Mawar setiap saya pulang kuliah, sekitar jam lima sore. Entah minuman apa yang ada di depannya, berapa lama dia duduk mendengarkan lagu-lagu yang diputar penjaga cafe, dan apa yang dikerjakannya. saya tidak tahu dan rasanya tidak ingin tahu. Bagi saya, lelaki itu sama saaja dengan pengunjung cafe lainnya yang selalu ada dari pagi sampai malam, sebelum cafe itu tutup pukul sebelas atau dua belas malam.
Saya baru memperhatikan lelaki itu, dan tahu bahwa dia selalu duduk di kursi pojok cafe setiap saya pulang kuliah, ketika Mawarwati yang mengelola cafe bilang bahwa lelaki itu menanyakan saya. Saya tidak tahu, untuk apa dia menanyakan saya, apa kepentingannya, atau bagaimana kelanjutannya. Saya melihatnya sekilas dari jalan, hanya untuk memastikan lelaki mana yang menanyakan saya itu. Setelah tahu, pikiran saya sama sekali tidak memperhatikannya, apalagi Mawarwati yang masih tetangga saya pun tidak pernah membicarakannya lagi.
Sesekali, saat saya melihat ke cafe waktu pulang kuliah, lelaki itu ketahuan memandang saya. Mengapa memandang saya, saya tidak tahu. Sesekali, sesampainya di kamar kos, saya bercermin, memperhatikan penampilan saya, mulai dari baju, celana, hingga rambut. Siapa tahu ada yang tidak wajar.
Penampilan saya, saya rasa, tidak ada yang berlebihan. Rambut saya dipotong pendek. Kadang diikat kalau hari panas. Lipstik dan bedak, tipis saja. Jadi, rasanya tidak ada yang perlu dikawatirkan dengan penampilan saya. Kalaupun lelaki itu memandang saya saat pulang kuliah, saya tidak tahu apakah dia memperhatikan saya sejak di ujung jalan. Tapi itu bukan urusan saya.
Dan, saat lelaki yang kepergok saat memperhatikan saya itu tersenyum dan mengangguk, saya pun membalas tersenyum dan mengangguk. Begitu sampai di kamar kos, tidak ada pikiran tentang dia di kepala saya. Senyuman dan anggukanku tadi hanyalah balasan moral dari seorang manusia yang belajar manusiawi. Rasanya tidak pantas kalau ada orang tersenyum dibalas dengan melengos.
Sesekali saya mendapatkan lelaki itu di taman perumahan, di depan gerbang, sedang menggerak-gerakkan badannya, atau sedang berlari mengelilingi taman, menyusuri jalan kompleks. Saya mengetahuinya bukan dengan semangat memperhatikan. Itu semua saya ingat, karena saya pernah melihat lelaki yang sering duduk di kursi pojok Cafe Mawar dan bisa membedakannya dengan lelaki lain. Selebihnya, tidak ada keinginan mengetahui tentangnya. Dimana dia tinggal, kerja atau kuliah, mengapa rambutnya gondrong, kok selalu sendirian, apakah dia tidak punya keluarga, saya tidak tahu.
Kalau kami berpapasan dia selalu senyum, atau menyapa "hai" dan saya pun menjawab "hai". Saya rasa saya tidak terganggu dengan keramahannya. Perhatian saya masih tetap kepada kuliah, pekerjaan dan kenalan-kenalan saya. Sebulan sekali menulis surat buat orangtua dan adik saya. Waktu senggang saya habiskan buat mendengarkan musik, jalan-jalan atau sesekali nonton.
Kadang Mawarwati masih datang ke kamar kos saya atau saya ke kamarnya. Kami memang bersahabat sejak saya kos di kompleks ini. Dia kuuliah di Sastra, tapi beda kampus dengan saya. Sesekali Mawarwati membicarakan lelaki berambut gondrong itu yang sekarang ada di cafenya. Dari nada bicara Mawarwati saya tidak menangkap ada yang diistimewakan lelaki yang sering menanyakan saya itu. Dia membicarakannya, karena tentang dialah yang diingatnya saat itu. Mawarmati juga membicarakan teman-temannya yanglain yang jago voli atau yang jago main gitar. Tetapi, siapapun yang dibicarakan Mawarwati saya tidak begitu memperhatikannya. saya tidak perduli, dan hanya tersenyum saat Mawarwati menceritakan lelaki yang kadang masih menanyakan saya itu. Katanya, Mawarwati pernah menanyakan mengapa dia tanya saya. Jawab lelaki itu, dia senang saya. Mengapa senang? Lelaki itu tidak menjawab. ia hanya senyum. Mawarwati pun tidak bertanya lagi dengan lelaki itu.
Saya pun tidak menanyakannya. Sekali waktu, saat pulang kuliah, hujan turun. Saya yang baru sampai di gerbang kompleks tidak bisa meneruskan perjalanan. Saya berteduh di depan toko kue. Ke dalam kompleks memang ada angkutan, tapi sedikit. Selain mesti menunggu, waktu-waktu tertentu mesti berebut. Itu pun untuk ke pangkalannya meski jalan kaki sedikit. Jadi, lebih baik berteduh menunggu hujan reda.
Saat itulah saya melihat lelaki itu turun dari bus kota. Dia berlari dan berteduh. Begitu melihat ke arah saya, dia tersenyum dan mendekat. Kami bicara sekadarnya,, tentang hujan dan cuaca, yang akhir-akhir ini sering mendung. Kemudian dia bercerita bahwa Mawarwati sesekali menanyakan, mengapa dia sering memandang saya atau menanyakan tentang saya. Dia menjawab sambil memandang saya dan tersenyum. Katanya, karena dia suka dengan saya. Menurutnyaa rambut saya indah, mata saya bagus, saya ramah, senyum saya susah dilupakan.
Saya tidak menanggapi pernyataannya. Kemudian dia ulurkan tangan, dan bilang mengapa setelah sekian kali jumpa tidak saling kenal. Saya dan dia saling menyebutkan nama. Namanya Gudo. Sebuah nama yang langka.
Saya tidak ingin mengatakan ingatan itu. Perhatian saya kemudian tercuri oleh pertanyaan Gudo yang menginginkan sesekali mengajak saya jalan-jalan menyusuri kompleks ini yang sunyi, mencari buku atau berbincang ala kadarnya. Saya menolak dengan mengatakan, tidak bisa janji karena sibuk. Saat dia menanyakan nomor telepon, karena bisa jadi sekali waktu dia memerlukan saya, saya nyatakaan dengan hati-hati bahwa saya benar-benar sibuk di rumah dan perlu istirahat. Jadi, maaf, saya tidak bisa memberinya nomor telepon.
Selanjutnya pembicaraan kami biasa lagi. Saat azan Magrib berkumandang, hujan belum reda, saya menyatakan akan menembus hujan. Gudo membuka jaketnya, dan memakaikan di tubuh saya. Saya tidak bisa menolak, karena dia terus mengatakan saya lebih pantas memakainya.
Malamnya dia menelpon. Katanya tahu nomor saya dari Maharwati, dan bilang sapu tangan saya tertinggal di kantong jaketnya. Saya ingat-ingat, sapu tangan saya tadi dipakai membersihkan muka memang tanpa sadar saya masukkan ke kantong jaket dan lupa mengambilnya. Gudo janji akan mengembalikannya besok. Kalau diijinkan, dia akan datang ke kost saya. Saya setuju, dan menyatakan akan menunggunya pukul sembilan pagi di Cafe Mawar.
Sekali lagidia bertanya, apakah bisa kalau sesekali mengajak saya jalan-jalan, mencari buku di toko, menonton film, atau menelepon sekedar omong-omong. Saya jawab, mungkin bisa kalau saya tidak sibuk. Mengenai telepon boleh boleh saja, asal tidak terlalu sering dan tahu waktu. Kemudian dia menanyakan kabar saya, apakah saya sudah mandi, makan dan sedang apa sekarang.
Besopknya, begitu saya datang ke Cafe Mawar, sapu tangan itu dititipkan ke Mawarwati. Kata Mawarwati, Gudo tadi menitip sapu tangan, dan tidak pesan apa-apa.
Sejak itu, sehari dua hari, seminggu dua minggu,sampai sebulan saya tidak melihat Gudo dan menerima teleponnya. Mawarwati pun tidak pernah membicarakannya. Saya merasa ada sesuatu yang hilang, entah apa. Atau mungkin itu perasaan saya, karena saya meang tidak mempunyai sesuatu yang hilang.
Pas sebulan lebih seminggu sejak dia mengembalikan sapu tangan saya, Gudo menelepon. Katanya, dia sudah berada di kota lain. Dia ingin menikmati suasana baru. Tapi, katanya, dia tidak bisa melupakan saya, jadi izinkanlah untuk menulis surat setiap kali dia ingat saya. Saya setuju. Seminggu kemudian, surat Gudo datang. Awalnya surat itu bertanggal lama. Katanya sobekan dari buku harian. Isinya: ketertarikannya pada saya, puisi saya. Sebuah puisinya, rasanya mewakili isi catatan catatannya: karena angin daun punya lambai, karena air laut punya biru, karena keluasan langit biru punya sayap, dan karena engkau aku punya rindu.
Dalam pengantarnya, Gudo bilang, sudah terpesona sejak awal melihat saya berjalan pulang kulia. baginya, saya yang berjalan dengan latar belakang matahari senja yang menjingga, lalu tersenyum dan mengangguk, adala pemandangan yang menakjubkan.
Sayang, dia rahu-ragu untuk menyatakannya. jadi, hanya menulisnya di buku harian. Baginya, perasaan seperti itu mesti hati-hati dinyatakan, karena dia tidak pernah menetap di suatu tempat. Sepengalamannya, bila perasaan seperti itu bebas dinyatakan, apalagi dengan kegilaan cinta yang mendebarkan, saat dia mesti pergi untuk menikmati tempat-tempat lain, hanya akan meninggalkan kenangan buruk. tapi, akhirnya dia tidak kuat memendam perasaan seperti itu terus terusan.
Begitu saya menolak seluruh usaha perkenalannya secara halus, Gudo berpikir, barangkali memang benar cinta tidak pantas bagi seorang yang sering pindah-pindah tempat seperti dia. Kalaupun Gudo tidak bisa melupakan saya, menulis di buku harian dan menulis surat, itulah kerahasiaan Tuhan yang menggetarkan. Sekali waktu,dia minta bertemu, berbincang tentang apa saja, dan menikmati senyum saya. "Teruslah tersenyum kepada siapa saja, Putri. Karena, dunia yan gmulai lelah ini butuh senyum seperti milikmu," tulisnya.
Surat surat selanjutnya banyak cerita tentang perjalanannya, peristiwa-peristiwa yang menggetarkan hatinya, pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya merupakan kerahasiaan Tuhan. Berbulan-bulan sampai bertahun-tahun saya menerima surat Gudo. Saya menjadi pembacanya yang setia. Sesekali saya pun menulis di buku harian mengomenari suratnya, tentu tidak bisa mengirimkannya buat Gudo karena belum pernah dia menuliskan alamat selain sebuah nama kota di awal setiap suratnya.
Entah sejak kapan saya mulai berpikir untuk membalas suratnya. Sekadar memberi tahu bahwa kuliah saya sudah selesai, dan saya akan pulang ke kota kelahiran. Sebenarnya, saya bisa pindah begitu saja, dan surat suratnya menumpuk atau dikembalikan ke pak Pos. Tapi, diam-diam saya berharap bisa terus membaca surat suratnya. Karena tidak ada alamat Gudo di siapa pun, saya memutuskan untuk mencari kerja di kota ini.
Membaca surat-surat Gudo, saya seperti menyusun sosok seorang lelaki yang selalu khawatir dengan dunia, belajar menyejukkan luka dunia dengan cintanya, dan belajar menyadari bahwa sebagai manusia tidak bisa lepas dari tanah air dan air mata. Entah sejak kapan awalnya, saya menjadi tidak bisa lepas dengan pikiran dan perasaan Gudo. Dia tidak hanya hadir sebagai lelaki yang penuh cinta, tapi juga seperti kerinduan-kerinduan saya yang selam ini tidak pernah saya tahu bagaimana menyusun dan menyatakannya.
Saya mulai mengingat-ingat bagaimana dia tersenyum, menyapa, memberikan jaket saay saya hendak menembus hujan. Barangkali, dulu, bukannya saya tidak memperhatikannya. Tapi, pura-pura tidak perlu dan membutuhkannya. Menikmati surat-surat Gudo yang tidak pernah berhenti mengalir setiap minggu, mungkin akhir hayatnyalah yang bisa memutus catatan-catatannya, saya lupa akan usia. Atau, barangkali, usia tidak mesti ada dalam pikiran seorang menusia yang belajar mencintai apa pun dan siapa pun. Orangtua saya berkali-kali mengingatkan, kapan saya mau menerima lamaran seorang lelaki. Kalau saya tidak punya pilihan, kepada mereka pun banyak yang datang. Tapi, saya tidak lagi berpikir itu.
Entah sejak kapan awalnya saya berharap sekali waktu Gudo datang, tersenyum, dan berbincang tentang luka dunia dan cinta yang meringankan perihnya. Tapi, setiap minggu hanya suratnya yang datang. Saya pun membuat catatan-catatan meresponnay, telh berbuku-buku, entah sampai kapan. Mungkin hidup hanyalah berharap tentang cinta yang abadi, padahal tak lebih dari perjalanan yang akhirnya akan pulang ke tanah air airmata. ***
Saya baru memperhatikan lelaki itu, dan tahu bahwa dia selalu duduk di kursi pojok cafe setiap saya pulang kuliah, ketika Mawarwati yang mengelola cafe bilang bahwa lelaki itu menanyakan saya. Saya tidak tahu, untuk apa dia menanyakan saya, apa kepentingannya, atau bagaimana kelanjutannya. Saya melihatnya sekilas dari jalan, hanya untuk memastikan lelaki mana yang menanyakan saya itu. Setelah tahu, pikiran saya sama sekali tidak memperhatikannya, apalagi Mawarwati yang masih tetangga saya pun tidak pernah membicarakannya lagi.
Sesekali, saat saya melihat ke cafe waktu pulang kuliah, lelaki itu ketahuan memandang saya. Mengapa memandang saya, saya tidak tahu. Sesekali, sesampainya di kamar kos, saya bercermin, memperhatikan penampilan saya, mulai dari baju, celana, hingga rambut. Siapa tahu ada yang tidak wajar.
Penampilan saya, saya rasa, tidak ada yang berlebihan. Rambut saya dipotong pendek. Kadang diikat kalau hari panas. Lipstik dan bedak, tipis saja. Jadi, rasanya tidak ada yang perlu dikawatirkan dengan penampilan saya. Kalaupun lelaki itu memandang saya saat pulang kuliah, saya tidak tahu apakah dia memperhatikan saya sejak di ujung jalan. Tapi itu bukan urusan saya.
Dan, saat lelaki yang kepergok saat memperhatikan saya itu tersenyum dan mengangguk, saya pun membalas tersenyum dan mengangguk. Begitu sampai di kamar kos, tidak ada pikiran tentang dia di kepala saya. Senyuman dan anggukanku tadi hanyalah balasan moral dari seorang manusia yang belajar manusiawi. Rasanya tidak pantas kalau ada orang tersenyum dibalas dengan melengos.
Sesekali saya mendapatkan lelaki itu di taman perumahan, di depan gerbang, sedang menggerak-gerakkan badannya, atau sedang berlari mengelilingi taman, menyusuri jalan kompleks. Saya mengetahuinya bukan dengan semangat memperhatikan. Itu semua saya ingat, karena saya pernah melihat lelaki yang sering duduk di kursi pojok Cafe Mawar dan bisa membedakannya dengan lelaki lain. Selebihnya, tidak ada keinginan mengetahui tentangnya. Dimana dia tinggal, kerja atau kuliah, mengapa rambutnya gondrong, kok selalu sendirian, apakah dia tidak punya keluarga, saya tidak tahu.
Kalau kami berpapasan dia selalu senyum, atau menyapa "hai" dan saya pun menjawab "hai". Saya rasa saya tidak terganggu dengan keramahannya. Perhatian saya masih tetap kepada kuliah, pekerjaan dan kenalan-kenalan saya. Sebulan sekali menulis surat buat orangtua dan adik saya. Waktu senggang saya habiskan buat mendengarkan musik, jalan-jalan atau sesekali nonton.
Kadang Mawarwati masih datang ke kamar kos saya atau saya ke kamarnya. Kami memang bersahabat sejak saya kos di kompleks ini. Dia kuuliah di Sastra, tapi beda kampus dengan saya. Sesekali Mawarwati membicarakan lelaki berambut gondrong itu yang sekarang ada di cafenya. Dari nada bicara Mawarwati saya tidak menangkap ada yang diistimewakan lelaki yang sering menanyakan saya itu. Dia membicarakannya, karena tentang dialah yang diingatnya saat itu. Mawarmati juga membicarakan teman-temannya yanglain yang jago voli atau yang jago main gitar. Tetapi, siapapun yang dibicarakan Mawarwati saya tidak begitu memperhatikannya. saya tidak perduli, dan hanya tersenyum saat Mawarwati menceritakan lelaki yang kadang masih menanyakan saya itu. Katanya, Mawarwati pernah menanyakan mengapa dia tanya saya. Jawab lelaki itu, dia senang saya. Mengapa senang? Lelaki itu tidak menjawab. ia hanya senyum. Mawarwati pun tidak bertanya lagi dengan lelaki itu.
Saya pun tidak menanyakannya. Sekali waktu, saat pulang kuliah, hujan turun. Saya yang baru sampai di gerbang kompleks tidak bisa meneruskan perjalanan. Saya berteduh di depan toko kue. Ke dalam kompleks memang ada angkutan, tapi sedikit. Selain mesti menunggu, waktu-waktu tertentu mesti berebut. Itu pun untuk ke pangkalannya meski jalan kaki sedikit. Jadi, lebih baik berteduh menunggu hujan reda.
Saat itulah saya melihat lelaki itu turun dari bus kota. Dia berlari dan berteduh. Begitu melihat ke arah saya, dia tersenyum dan mendekat. Kami bicara sekadarnya,, tentang hujan dan cuaca, yang akhir-akhir ini sering mendung. Kemudian dia bercerita bahwa Mawarwati sesekali menanyakan, mengapa dia sering memandang saya atau menanyakan tentang saya. Dia menjawab sambil memandang saya dan tersenyum. Katanya, karena dia suka dengan saya. Menurutnyaa rambut saya indah, mata saya bagus, saya ramah, senyum saya susah dilupakan.
Saya tidak menanggapi pernyataannya. Kemudian dia ulurkan tangan, dan bilang mengapa setelah sekian kali jumpa tidak saling kenal. Saya dan dia saling menyebutkan nama. Namanya Gudo. Sebuah nama yang langka.
Saya tidak ingin mengatakan ingatan itu. Perhatian saya kemudian tercuri oleh pertanyaan Gudo yang menginginkan sesekali mengajak saya jalan-jalan menyusuri kompleks ini yang sunyi, mencari buku atau berbincang ala kadarnya. Saya menolak dengan mengatakan, tidak bisa janji karena sibuk. Saat dia menanyakan nomor telepon, karena bisa jadi sekali waktu dia memerlukan saya, saya nyatakaan dengan hati-hati bahwa saya benar-benar sibuk di rumah dan perlu istirahat. Jadi, maaf, saya tidak bisa memberinya nomor telepon.
Selanjutnya pembicaraan kami biasa lagi. Saat azan Magrib berkumandang, hujan belum reda, saya menyatakan akan menembus hujan. Gudo membuka jaketnya, dan memakaikan di tubuh saya. Saya tidak bisa menolak, karena dia terus mengatakan saya lebih pantas memakainya.
Malamnya dia menelpon. Katanya tahu nomor saya dari Maharwati, dan bilang sapu tangan saya tertinggal di kantong jaketnya. Saya ingat-ingat, sapu tangan saya tadi dipakai membersihkan muka memang tanpa sadar saya masukkan ke kantong jaket dan lupa mengambilnya. Gudo janji akan mengembalikannya besok. Kalau diijinkan, dia akan datang ke kost saya. Saya setuju, dan menyatakan akan menunggunya pukul sembilan pagi di Cafe Mawar.
Sekali lagidia bertanya, apakah bisa kalau sesekali mengajak saya jalan-jalan, mencari buku di toko, menonton film, atau menelepon sekedar omong-omong. Saya jawab, mungkin bisa kalau saya tidak sibuk. Mengenai telepon boleh boleh saja, asal tidak terlalu sering dan tahu waktu. Kemudian dia menanyakan kabar saya, apakah saya sudah mandi, makan dan sedang apa sekarang.
Besopknya, begitu saya datang ke Cafe Mawar, sapu tangan itu dititipkan ke Mawarwati. Kata Mawarwati, Gudo tadi menitip sapu tangan, dan tidak pesan apa-apa.
Sejak itu, sehari dua hari, seminggu dua minggu,sampai sebulan saya tidak melihat Gudo dan menerima teleponnya. Mawarwati pun tidak pernah membicarakannya. Saya merasa ada sesuatu yang hilang, entah apa. Atau mungkin itu perasaan saya, karena saya meang tidak mempunyai sesuatu yang hilang.
Pas sebulan lebih seminggu sejak dia mengembalikan sapu tangan saya, Gudo menelepon. Katanya, dia sudah berada di kota lain. Dia ingin menikmati suasana baru. Tapi, katanya, dia tidak bisa melupakan saya, jadi izinkanlah untuk menulis surat setiap kali dia ingat saya. Saya setuju. Seminggu kemudian, surat Gudo datang. Awalnya surat itu bertanggal lama. Katanya sobekan dari buku harian. Isinya: ketertarikannya pada saya, puisi saya. Sebuah puisinya, rasanya mewakili isi catatan catatannya: karena angin daun punya lambai, karena air laut punya biru, karena keluasan langit biru punya sayap, dan karena engkau aku punya rindu.
Dalam pengantarnya, Gudo bilang, sudah terpesona sejak awal melihat saya berjalan pulang kulia. baginya, saya yang berjalan dengan latar belakang matahari senja yang menjingga, lalu tersenyum dan mengangguk, adala pemandangan yang menakjubkan.
Sayang, dia rahu-ragu untuk menyatakannya. jadi, hanya menulisnya di buku harian. Baginya, perasaan seperti itu mesti hati-hati dinyatakan, karena dia tidak pernah menetap di suatu tempat. Sepengalamannya, bila perasaan seperti itu bebas dinyatakan, apalagi dengan kegilaan cinta yang mendebarkan, saat dia mesti pergi untuk menikmati tempat-tempat lain, hanya akan meninggalkan kenangan buruk. tapi, akhirnya dia tidak kuat memendam perasaan seperti itu terus terusan.
Begitu saya menolak seluruh usaha perkenalannya secara halus, Gudo berpikir, barangkali memang benar cinta tidak pantas bagi seorang yang sering pindah-pindah tempat seperti dia. Kalaupun Gudo tidak bisa melupakan saya, menulis di buku harian dan menulis surat, itulah kerahasiaan Tuhan yang menggetarkan. Sekali waktu,dia minta bertemu, berbincang tentang apa saja, dan menikmati senyum saya. "Teruslah tersenyum kepada siapa saja, Putri. Karena, dunia yan gmulai lelah ini butuh senyum seperti milikmu," tulisnya.
Surat surat selanjutnya banyak cerita tentang perjalanannya, peristiwa-peristiwa yang menggetarkan hatinya, pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya merupakan kerahasiaan Tuhan. Berbulan-bulan sampai bertahun-tahun saya menerima surat Gudo. Saya menjadi pembacanya yang setia. Sesekali saya pun menulis di buku harian mengomenari suratnya, tentu tidak bisa mengirimkannya buat Gudo karena belum pernah dia menuliskan alamat selain sebuah nama kota di awal setiap suratnya.
Entah sejak kapan saya mulai berpikir untuk membalas suratnya. Sekadar memberi tahu bahwa kuliah saya sudah selesai, dan saya akan pulang ke kota kelahiran. Sebenarnya, saya bisa pindah begitu saja, dan surat suratnya menumpuk atau dikembalikan ke pak Pos. Tapi, diam-diam saya berharap bisa terus membaca surat suratnya. Karena tidak ada alamat Gudo di siapa pun, saya memutuskan untuk mencari kerja di kota ini.
Membaca surat-surat Gudo, saya seperti menyusun sosok seorang lelaki yang selalu khawatir dengan dunia, belajar menyejukkan luka dunia dengan cintanya, dan belajar menyadari bahwa sebagai manusia tidak bisa lepas dari tanah air dan air mata. Entah sejak kapan awalnya, saya menjadi tidak bisa lepas dengan pikiran dan perasaan Gudo. Dia tidak hanya hadir sebagai lelaki yang penuh cinta, tapi juga seperti kerinduan-kerinduan saya yang selam ini tidak pernah saya tahu bagaimana menyusun dan menyatakannya.
Saya mulai mengingat-ingat bagaimana dia tersenyum, menyapa, memberikan jaket saay saya hendak menembus hujan. Barangkali, dulu, bukannya saya tidak memperhatikannya. Tapi, pura-pura tidak perlu dan membutuhkannya. Menikmati surat-surat Gudo yang tidak pernah berhenti mengalir setiap minggu, mungkin akhir hayatnyalah yang bisa memutus catatan-catatannya, saya lupa akan usia. Atau, barangkali, usia tidak mesti ada dalam pikiran seorang menusia yang belajar mencintai apa pun dan siapa pun. Orangtua saya berkali-kali mengingatkan, kapan saya mau menerima lamaran seorang lelaki. Kalau saya tidak punya pilihan, kepada mereka pun banyak yang datang. Tapi, saya tidak lagi berpikir itu.
Entah sejak kapan awalnya saya berharap sekali waktu Gudo datang, tersenyum, dan berbincang tentang luka dunia dan cinta yang meringankan perihnya. Tapi, setiap minggu hanya suratnya yang datang. Saya pun membuat catatan-catatan meresponnay, telh berbuku-buku, entah sampai kapan. Mungkin hidup hanyalah berharap tentang cinta yang abadi, padahal tak lebih dari perjalanan yang akhirnya akan pulang ke tanah air airmata. ***
Friday, October 14, 2011
Japanese Writers / Forbidden by Tabitha Suzuma
I've been reading lately. Lot of works. From Japanese mostly ^^
Tabitha Suzuma... and Haruki Murakami.

Tabitha Suzuma - Forbidden. What i can say about this particular work is - it must be inspired from a movie. It's one of my favourite movies - Nobody Knows. I wish to leave a comment in the Goodreads section and see what others say about this.

Haruki Murakami - I've been reading his works from last year. And it was actually been promoted by my famous lecturer - Lim Swee Tin. I don't know if he was just started reading Murakami's work or what, but he mentioned about reading Sputnik Sweetheart in a train and being ashamed of the cover.
I assumed that's the first time he read the book. About Murakami's other works - i dont know.
Well, he's a great writer, no way he never read the books of Murakamis.
Because of the thoughts (my famous lecturer only just began knowing Murakami's works) i had this feeling... lucky. i felt so lucky for having this chance to know about this writer. Murakami is a great writer. So great. I love the way he used similes in his works. It's just wonderful.
I'm currently reading The Wind-Up Bird Chronicle. Even the title is epic enough. ^^
I remembered a part of the book mentioning a comparation made by him. Saying that it's not as easy as picking up the prettiest rose in the garden to be presented for granny. How cool is that?
My absolute favourite is Sputnik Sweetheart. I can read it every day. Every minute, every second and wouldnt get tired of the style of his writing. - Well, that's because that's the only book i get hold on till the end. I've read Kafka on The Shore. But i dont really like it. But i LOVE the scenes and the ideas. Like - meeting a girl on a bus. Running away from home (that kind of adventure), and living in a library. Well it can be related to myself cos all my life, I've always loved library. All my adoloscence years have been spent in libraries. Borrowing lots of books from libraries in school. And even when i entered universities, my favourite places were libraries. I can't describe how i love libraries. It's the biggest pleasure of my life and i wish i could still use all those libraries that i've left. They were all wonderful. I've met most of my favourite books there - books that i cannot afford to own.
About the story Forbidden, i've never thought there could be a writer copying works from a movie. I do gave a thought about that but i just never thought they're existed. Now i've seen it for myself. Read it for myself. So i know it's normal to be inspired by your favourite movie. My review on that book would be - it's disturbing. Loving your own brother. it's disturbing. Maybe because i've watched the movie, so i keep having these images of Akira and Kyoko. In love? Making out? It's pretty repulsive because in the movie, they were genuinely siblings. But to be honest in the first time i watched the appearance of Kyoko, i do hope - how wonderful it would be if Kyoko and Akira can be in relationships. So maybe it's a satisfction for Miss Suzuma. To see both of them in love. And in that sense, i can feel the satisfaction myself. For those whhose longing to see Kyoko and Akira in love, then you should read this book.
The Kids in Nobody Knows
Akira
Kyoko
I'm so thankful of having this chance to read these wonderful books.
It made me think that Japanese brains are amazing. I've loved Hayao Miyazaki. Then i love Haruki Murakami. Now i love Tabitha Suzuma.
Tabitha Suzuma... and Haruki Murakami.

Tabitha Suzuma - Forbidden. What i can say about this particular work is - it must be inspired from a movie. It's one of my favourite movies - Nobody Knows. I wish to leave a comment in the Goodreads section and see what others say about this.

Haruki Murakami - I've been reading his works from last year. And it was actually been promoted by my famous lecturer - Lim Swee Tin. I don't know if he was just started reading Murakami's work or what, but he mentioned about reading Sputnik Sweetheart in a train and being ashamed of the cover.
I assumed that's the first time he read the book. About Murakami's other works - i dont know.
Well, he's a great writer, no way he never read the books of Murakamis.
Because of the thoughts (my famous lecturer only just began knowing Murakami's works) i had this feeling... lucky. i felt so lucky for having this chance to know about this writer. Murakami is a great writer. So great. I love the way he used similes in his works. It's just wonderful.
I'm currently reading The Wind-Up Bird Chronicle. Even the title is epic enough. ^^
I remembered a part of the book mentioning a comparation made by him. Saying that it's not as easy as picking up the prettiest rose in the garden to be presented for granny. How cool is that?
My absolute favourite is Sputnik Sweetheart. I can read it every day. Every minute, every second and wouldnt get tired of the style of his writing. - Well, that's because that's the only book i get hold on till the end. I've read Kafka on The Shore. But i dont really like it. But i LOVE the scenes and the ideas. Like - meeting a girl on a bus. Running away from home (that kind of adventure), and living in a library. Well it can be related to myself cos all my life, I've always loved library. All my adoloscence years have been spent in libraries. Borrowing lots of books from libraries in school. And even when i entered universities, my favourite places were libraries. I can't describe how i love libraries. It's the biggest pleasure of my life and i wish i could still use all those libraries that i've left. They were all wonderful. I've met most of my favourite books there - books that i cannot afford to own.
About the story Forbidden, i've never thought there could be a writer copying works from a movie. I do gave a thought about that but i just never thought they're existed. Now i've seen it for myself. Read it for myself. So i know it's normal to be inspired by your favourite movie. My review on that book would be - it's disturbing. Loving your own brother. it's disturbing. Maybe because i've watched the movie, so i keep having these images of Akira and Kyoko. In love? Making out? It's pretty repulsive because in the movie, they were genuinely siblings. But to be honest in the first time i watched the appearance of Kyoko, i do hope - how wonderful it would be if Kyoko and Akira can be in relationships. So maybe it's a satisfction for Miss Suzuma. To see both of them in love. And in that sense, i can feel the satisfaction myself. For those whhose longing to see Kyoko and Akira in love, then you should read this book.
The Kids in Nobody Knows
Akira
Kyoko
Apart of all that, it was definitely a great book. It was very well writeen. It amazes me in every way. Even made me fall in love with Lochan's style. His masculinity. He's a pure man. I don't know how Miss Suzuma did this, but she's amazing at describing being a man (in Lochan's point of view). All this time, i always thought, a woman can never write 1st point of view as a man. Because one day it'll end up sounding like a girl. Sissy. But Miss Suzuma did it very well. It's just like what a man feels. Ignorance of a man. Simple thoughts of man. It's juat amazing. And whenever it comes to Maya's point of view, Miss Suzuma can switch the mood into being deep-thought, sensitive, a-bit-carried-away-with-emotions, well that's how girls are, right? All i can say is i will always make her writing as a reference. In line with Murakami's style of simile writing.
I'm so thankful of having this chance to read these wonderful books.
It made me think that Japanese brains are amazing. I've loved Hayao Miyazaki. Then i love Haruki Murakami. Now i love Tabitha Suzuma.
Wednesday, November 10, 2010
Movies I'm Currently in Love With and End of Second Manuscript

Well, i'm officially sent my manuscript today. Not the whole manuscript. But the summary and a little description of the characters.
i'm happy cos i made it. one burden has been lifted out of my shoulders. now i'm collecting ideas for my third manuscript. hoping to get three done by this end of year. hopefully.
as a reward, i watched Princess Mononoke this afternoon. i never thought i'd love the movie this much. my oh my! i love it so bad. i'm addicted to it. feeling like wanna watch it over and over and just never take my eyes off of them. i still have the image of Prince Ashitaka in my head. how great that guy was. his love for San is totally blown me away. i love them both. i love the way the plot has been arranged. they're in love. but it's not overrated and everything's just perfect. if you have time people, i recommend you to watch it. please... it's good. it's one of the seven wonders and you can't die before you watch this. it's a masterpiece!
i love all of Hayao Miyazaki's films! i've wathed some of them. started with Spirited Away, Howl's Moving Castle, My Neighbour Totoro, Tales From Earthsea and now the Princess Mononoke. Nausicaa of The Valley of The Wind is on the waiting list. but it needs to be waited. it's gonna be another reward for me. maybe for finishing 10 chapters of my new manuscript? hmmm... we'll see...

oh yeah! another one that i would highly recommend to you people is The Pursuit of Happyness. That movie is just awesome! i love it to death! i was so inspired after watching it. reminded me of my life. how hard life could be sometimes. and... at times when i thought of the character, Chris Gardner facing big troubles in life. which is coming and pouring to him, i thought, if it happens to me, i'd rather strangle myself to death. but Chris keeps holding on and he's so great. i love this guy who never give up and never cry a single tear upon the hardness he gets. except for a night of fear when he's homeless and sleeping in a public bathroom. he's my idol! i love that movie so much! i can't believe it happens in real life. the image of Chris carrying the bone scanner is still lingering in my mind. i pity them. and i wish i could be as strong as him whenever i'm in pain. he made it through the hardship and he did it with full of pride. i'm so proud of this guy. God, i love this movie so bad!
but, yeah... when you feel like you're at the bottom of your feet. you're in pain or your in trouble with money. you should watch it. you'll ended up thinking about the world around you. it'll open your eyes and be grateful of your life.
that's all for now. gute nacht!
Monday, October 25, 2010
Plot for MyThird Novel
Thank You God for giving me ideas to write almost 50% plot of my next novel today. I'm happy! Well, i'm always like this. Whenever i'm at the corner of sending my current manuscript to publisher, the new novel's ideas will keep pouring in my mind. I can't stop it. I just can't resist cos it'll be forgotten soon. So everything i could ever think of, i'll write it like some kind of worms and 'codes' and sometimes with doctor's handwriting, cos i want to be fast, don't wanna lose any of the ideas. So, I'm happy now that i managed to write 50% of it (chronologically). Included the non-chronological, it could be up to 80% done. Whoa! I'm happy.
My third novel is something cool to write. I just can't wait to start writing it. I'm sure it'll be nice. It's more dramatic. With twisted love stories (though i don't really like a direct love stories, but that's what markets want!) and some family and countryside stories. I just can't wait to start it. It must be blissful writing it. I hope I won't have so many writer's blocks in this third project. I want to set a target.
I WANT TO FINISH IT IN ONE MONTH.
Sounds crazy huh? Well, it's a challenge folks!
Source: skelliewag.org
As for the second novel. I'm done with the marking. Currently i need to continue making corrections on the pages at the back. And needs to put an ending to it. Which may be need two days. If i do it constantly. Which could only works once in a blue moon. (Yea, sometimes i'd go crazy like that when i'm depressed or something. I'm crazy. Haha...)
Huhhhhh... Can't wait to finish the second novel and start writing the third!
My third novel is something cool to write. I just can't wait to start writing it. I'm sure it'll be nice. It's more dramatic. With twisted love stories (though i don't really like a direct love stories, but that's what markets want!) and some family and countryside stories. I just can't wait to start it. It must be blissful writing it. I hope I won't have so many writer's blocks in this third project. I want to set a target.
I WANT TO FINISH IT IN ONE MONTH.
Sounds crazy huh? Well, it's a challenge folks!
Source: skelliewag.orgAs for the second novel. I'm done with the marking. Currently i need to continue making corrections on the pages at the back. And needs to put an ending to it. Which may be need two days. If i do it constantly. Which could only works once in a blue moon. (Yea, sometimes i'd go crazy like that when i'm depressed or something. I'm crazy. Haha...)
Huhhhhh... Can't wait to finish the second novel and start writing the third!
Subscribe to:
Posts (Atom)